Showing posts with label KIY. Show all posts
Showing posts with label KIY. Show all posts

Saturday, November 9, 2013

NEXT!!!??? Δ





SubhanaAllah, diberikan team yang membahagiakan. Thank you for sharing this ride with me. Without you I'm never would have lasted. 
And then, thank you mas Aldino (fotografer BTPN Syariah) :)

Saturday, October 12, 2013

See You On Oktober!





“Setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba; forsythia, kamelia, dan bunga-bunga lainnya. Bebunggan itu tahu kapan mereka akan mekar; tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain. Musimmu belum datang. Namun ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka, mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain. Tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar sebelum dirimu. Jadi angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu.
Ingat, kamu begitu menabjukan KIY!.” Rando Kim.
Apa kau masih ingat, jikalau hubungan percintaan adalah satu jalinan di antara dua insan yang membuat hidupmu seolah berada di keabadian surga bak malaikat. Tapi ingatkah kau pernah berjanji untuk menemuiku di bulan ini; di musim gugur yang mana ada satu bunga yang akan mekar di musim ini juga. Kita akan bersama untuk kembali. 
Tapi yah aku tahu jika cinta yang kau miliki membuatmu lemah—demi mempertahankan hubungan dan cinta yang kamu miliki untuk pasanganmu—maka itu bukan cinta.
Bertanyalah pada dirimu sendiri dengan sejujur-jujurnya: siapa yang benar-benar kamu cintai, dirimu sendiri atau pasanganmu (..).
Lalu aku ingin bertanya kepadamu sekali lagi; apakah dirimu jatuh hati kepada diriku atau oranglain? Jika yang kau pilih adalah dirimu sendiri, maka itu bukanlah cinta. Dan aku takan menunggumu dimusim ini untuk kembali. Tolong berikan peringatan untuk menandai kehadiranmu dimusim ini pula, aku menunggumu hingga kuncup ini akan mekar disore nanti. #KIY


Thursday, August 16, 2012

Ratap Gadis Senja




Malam ini, jum’at 23 Januari tahun 2002. Umurku genap 17 tahun, kata ibu.
Kamu tahu siapa aku? Pasti kamu tak akan pernah menghiraukannya bukan? Aku bertanya dengan ketulusan hati, dan menjawabnya dengan seluruh sanubari. Jikalau kamu bagaimana?.
Ada hal yang ingin ku utarakan kepada dirimu kawan, tapi ingat cukup hanya aku, kau, dan dirinya saja yang menngetahuinya. Janji????.
Baiklah, untuk kesekian kalinya, ku ceritakan ini kepada kalian tentang apa yang saksikan.
 Bermula dari cerita ibuku. Beliau adalah ibu kalbu yang kian terus menyuburkan rasa kebahagiaan, hingga tiada henti-henti, haus akan cinta kasih mulanya. Aku tak tahu menceritakannya dengan bahasa seperti apa, tapi aku ingat semuanya. Masih terekam jelas oleh ingatanku, sungguh.
Ditiap malam wewangian sunyi, ibu selalu menceritakan dari mana asalnya diriku, dia meng-angapku bak malaikat yang kian dilontarkan dalam bayang-bayang semu. Aku ingat sekali ketika ia mengatakan bahwa aku adalah anak malaikat, aku diturunkan kebumi bukan dari benih sperma pria yang akhirnya di taruh rahim sang peneduh. 
Kala ibu bercerita ketika malaikat sedang menanyakan hal kepadaku yang kelak aku akan disambarnya kedalam rahim sang peneduh. Begini menurut apa yang ibu ceritakan ;
Disatu malam sepasang malaikat dan aku bertemu untuk jumpa pertama kalinya, mungkin disurga, katanya.
“Wahai anak punjanga kau telalu lembut dan murni untuk bisa ke rahimnya”. Malaikat pun bertanya awalnya.
“Tak apalah aku ingin menjadi penjaga seseorang yang kian kau sebut-sebut sebagai peneduhku itu!” Akupun tak ayal menjawabnya.
Dan seketika, sepasang malaikat itu pun membawa ruhku dari langit dan disemaikannya kedalam rahim perempuan yang kelak ku panggil ibu. Secara bergantian sepasang malaikat tersebut membisikkan apa yang akan menjadi nasibku kelak. Seperti adonan yang dibentuk seindah rupawan, dibentuk tangan dan kaki yang menyelusup ke tubuh munggilku. Aku senang sekali ketika malaikat menyematkan hidung dan telingga. Sungguh bahagia sekali rasanya.
Seketika mereka memperlihatkanku sepasang mata yang indah. Mereka berkata lirih “ Mata ini akan membuatmu betambah jelita, namun juga menderita”.
Lalu kukatakan kepada mereka “Jika mataku ini mebuahkan penderitaan, biarkan aku tak usah memilikinya”
“Kelak kau akan megetahui seluruh rahasia yang mereka tak ketahui sebelumnya”
“Kalau begitu, biarkan aku tak memilikinya, karena aku dapat melihat tanpanya”
Lalu mereka pergi dan menyimpan mata itu,
“Kelak kau dapat mengambil sepasang bola mata ini sesuka hatimu, disurga”


                                                                               ***


Ditiap  malam yang lembam akan siuran angin yang kian begelit kesenjaan, ibu selalu menutup ceritanya dengan memenjamkan mata, lalu tubuhnya yang ringkih tidur dengan pulas, tak lupa secuil senyuman  tersungging dibibir lusuhnya.
Namun kian menghantarkan aku pada juta pertanyaan yang ingin kulantunkan kepadanya.
Tidak seperti aku. Kian ditiap malam selalu mendengar bebunyian yang terkadang mengetarkan sekujur bulu roma, entah dari mana asalnya, entah mengapa selalu terbesit didalam nestapa. Tak ada yang pernah mendengarnya selain aku dan hewan-hewan kecil yang bersembunyi dalam kegetiran bumi. Ibupun tidak, kau tahu suara itu berasal dari mana?
Itu pertanyaan sedariku berajak dewasa, kawan.
Ibu tak pernah mau menceritakannya sampai keseluruhan, aku mengerti karena ia tak ingin menyakiti hatiku. Dia tak pernah tahu bahwa sejumput cerita yang selalu ia usik adalah cerita yang sesungguhnya yang selalu tersematkan oleh kibaran serbuk mimpiku. Aku tak pernah menceritakannya karena kutahu, itu tak berarti lagi, sekarang aku memiliki ibu yang selalu menemaniku di tiap malam kelabu, kukira ini hanyalah kembang mimpi yang selalu tertancap dalam binaran matanya.
Jika aku ceritakan ini, apakah kau akan percaya?.
Bahwa apa yang dikatakan sepasang malaikat  itu benar, aku dapat melihat. Sungguh aku bisa merasakan itu. Memang aku tak memiliki sepasang mata yang indah seperti kalian tapi sungguh aku tak pernah berdusta. Aku dapat melihat langit yang hijau dan lebut sekiranya peraduan senja yang kian berkitaran diatasnya halus, sehalus kapas. Aku dapat melihat pepohonan yang ungu keungu-unguan, dedaunan yang kemerahan serta batang yang berwarna biru kelumutan. Butiran hujan yang selalu memercikan hingga menyambar jemariku yang tampak megah berkilauan seperti berkelibat dengan kekhusyukan didalamnya. Bisa kulihat hamparan rumput yang selalu berteriak manis menyambut siapa saja yang enggan menolaknya, juga angin yang putih kelabu dan biru laiknya sebuah beludru. Aku dapat menyentuhnya, hanggat rasanya, dingin jika tercium, bahkan aku bisa menyentuhnya si sela-sela jemariku yang selalu berkitaran dan menari-nari didalamnya.
Semoga kau percaya akan semua yang kuceritakan, cerita ini tak usai hanya sebatas sini saja.


                                                                                 ***


Sengaja ku buka kelopak mataku, agar kau bergidik ketakutan. Namun kulihat kau tak begitu. Sudah ku jelaskan apa sesungguhnya yang terjadi, bukan sekadar ilusi namun kesungguhan. Bagaimana tidak ibu yang melahirkanku membuang diri ini ketempat dengan kekeruhan luar biasa, mungkin dia pun sama dengan apa yang kau rasakan ketika sekejap kuperlihatkan kelopak mataku ini.
Aku tak akan menderita berlarut-larut, sungguh. Kepedihan selalu beujung kebahagian, itu menurutku. Bertahun-tahun aku diungsikan disatu pondok yang sekarang majadi markas besar para anak-anak terlantar didalamnya yang akhirnya dijadikan budak-budak berpenghasilan tinggi, maksutku pengemis-pengemis jalanan.
Aku melihat ini, satu hari ada anak yang bertubuh normal laiknya anak-anak yang terlahirkan biasa, telingganya di iris, kakinya dihancurkan bak mesin penghancur hingga menjadikannya lumpuh agar dikasihani manusia-manusia lainnya. Cukup aku ceritakan selintasannya saja, aku pun ngeri dibuatnya.
Aku terkesima menyaksikannya, langit seolah-olah runtuh dan meratapi kemendungan ditiap harinya. Ku lihat ia bergantungan di atap-atap kesyahduannya. Dan menciumi seluruh kehidupan yang kian membinasakan. Saat itu aku melihat ribuan kembang berupa-rupa yang betebaran ke atas, seperti mengiringi keadaan ini sampai akhirnya kau membawaku ke tepi, entah apa. Mungkin kematian.
Kuceritakan ini kepada kalian, tapi kalian tetap mengangapku pendusta. {KIY}

P Aruoem, Tangerang, Agoestus 2012

Friday, August 3, 2012

Dengarkan ini, Senja!


Kau mau tahu? mengapa aku selalu memanggilmu dengan sebutan "senja",  
yah walaupun itu memang bukan namamu. Bukan pula nama margamu.
Aku tahu kau pasti akan selalu diam dan takan bersajak apapun ketikaku berucap. 
 Tapi tolong dengarkan sejenak semua yang ingin kukatakan kali ini!



Aku ingat ketika kau mengusap keningku dengan sapu tangan birumu yang lusuh itu. 
Aku ingat betul kau selalu mengucapkan hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. 
***

Di tempat itu, ia meneguk rindu yang kias terlampaui ciuman hangat darinya. Kau masih ingat?.
Aku melihat semuanya, tak perlu kau tutup-tutupi, semua binaran cahaya redup kunang-kunang kian berkitaran dihadapanmu. Kau tahu siapa mereka!. 
Mereka bukan hanya sekadar ilusiku semata, tapi mereka adalah duri yang kian menusukku hingga palung sanubari. Pedih.





 
Ku tertegun melihat ulah ketiadaan ini, laiknya hari ditiada harikan. Kelam.
 Kau diam dan aku terdiam, disaat itulah kita berpisah dan tak tahu kapan akan kembali. Kau hanya mengucapkan selamat tinggal dan mencium kening, memegang erat jemariku, aku membalasnya dengan ciumam yang biasa ku lakukan kepadamu.
Kau hanya membalas senyum kepadaku. Senyummu, yah senyummu bagaikan  kesedihan yang berujung kematian. Senyummu mengetarkan, mengayunkan,  menebarkan pesona sejatinya.



 
Kau hilang ditelan senyap malam. Aku ingin menghapuskan, lalu hilang dari kesunyian. Kota ini kota mati bertiadaan kehidupan. Semua rapuh, yang tertinggal hanyalah kesakitan  kian mengapung di udara. Menyelesup ke balik celah-celah kehampaan yang selalu terbesit dalam angan ditiap keheningan malam. Itulah dirimu senja!
(Aku menunggumu Senja. Sungguh.)
                               {KIY}                               

Sunday, July 29, 2012

Untukmu Dariku, Senja!


Lihatlah guratan mata dan binaran dimalam yang kelabu ini, sungguh, sungguh perih rasanya. Apakah kau rasakan  yang kian terbesit diulu hatiku, senja?


Ketika kau berlabuh pada peruntuannya, kau akan tersadar bahwa ialah lembayung yang enggan menghampirimu. Bias dan samar membaur tersihir telak olehmu.

 Dahulu kau mengira kita akan menjadi satu seperti kepingan  yang berbalut binaran indah menyelusup dan mengkristal, katamu.
Itukah engkau?, yah aku melihat bayanganmu. Cukup jelas tertangkap di kornea mataku. Aku tahu pasti kau menepati janji dimalam fanamu itu!.

 Mataku menyempit mencari celah sampai ketitik peraduannya menyimak seluruh penjuru demi melintasi bayang yang kian menyergap. Penggap rasanya, melintasi sejumput aroma halus tubuhmu yang kian mengembara.

 Kau kah itu senja?, tolong ampuni semua kabut yang menyelebungi bebauan malam kendati menyeringgit kalbuku ini. Usirlah mereka senja!, kataku.

Kabut ini, yah kabut ini adalah air mataku yang sedari dulu. Didetik perpisahan kita. Mereka akhirnya menguap lalu menyeruak hingga berkelabuh dalam kabut.



Foto ini kusunting sendiri,style yang sangat simple dan nyaman,hanya itu tujuanku!;)

Semua yang kulontarkan sama perihal jiwa dan sanubari ini, letih dan ringkih. Disatukan dalam kata-kata yang berpola bak permaisuri. Maaf ku buat ini khusus untukmu,senja. Sungguh. {KIY}

Friday, July 13, 2012

Cerpen Pertamaku.


Hidup dalam Mimpi
 Oleh Kamelia Indri Yani


Tanah telah menjadi serpihan debu-debu yang beterbangan kian kemari. Tanaman mematung kehausan, dan timba-timba di sumur melompong belaka walaupun tiap detik selalu menengadah kelangit. Tapi setelah lama kami menunggunya turun, akhirnya, tetes hujan itu pun jatuh jua. Tetes air hujan yang berjatuhan di awal pagi ini. Penanda datangnya musim penghujan di desaku tercinta.
Pagi diawal musim penghujan ini,kami bersuka ria bersama alam demi meluapkan kesenangan dan kebahagiaan. Semua warga tergesa-gesa menggamit wadah untuk menadah hujan. Aku pun segera menghambur keluar rumah agar guyuran hujan membasuh sekujur tubuhku yang seolah haus akan rindu alam di musim basah. Inam temanku lebih bersemangat lagi. Ia lepaskan semua bebeknya yang ada dikandang,seolah tak ingin kehilangan waktu pertama saat hujan tiba. Aroma tanah kering segera menguar masuk ke hidungku. Sebelum kemudian terhempas sekejab bersama angin yang seolah menghapus semua derita desa selama enam bulan ini, yang menunggu tetesan air hujan turun untuk semua kehidupan di desa kami.
Rasanya bagaikan mimpi yang selalu terngiang dihidupku,bila musim penghujan datang pada waktunya.
“Randa sini,Nak!”  sebuah suara lembut keluar dari dalam rumah. Suara Ibuku, Bu Guru Sukiyem. Begitu beliau biasa disapa karena profesinya sebagai guru desa di Bumi Rahayu,desaku. Tapi ibuku hanyalah guru honorer,dan hanya beliaulah satu-satunya guru perempuan yang ada didesaku. Amat pedih melihatnya dengan keterbelakangan keluarga kami yang semakin terpuruk setelah meninggalnya ayah setahun silam. Ibu berkerja sendiri dan aku selalu membantu pekerjaannya.Semampuku.
Aku masih  duduk dikelas lima SD. Di sekolah tempat Ibuku mengajar. Sering aku melihat ibu kewalahan dengan setumpuk tugas mengajarnya, di kelas satu sampai kelas empat.Walaupun Ibu hanya guru honorer tapi tugasnya seperti guru-guru pada umumya, meski tetap tanpa tunjangan dari Pemerintah selaiknya guru atau PNS pada umumnya.Pedih rasanya melihat Ibu kelelahan sepulang ia bekerja.
***
Untuk pekerjaan Ibu sebagai guru, beliau hanya beroleh upah yang hanya berkisar Rp 30.000 per bulan, yang kadang juga tak menentu.Bahkan sesekali Ibu tak menerima uang sepeser pun dari perkerjaannya itu.
Tapi jika tak ada tugas panggilan sebagai guru, Ibu beralih menjadi seorang ibu petani handal.Meski hanya dengan upah yang tak terlalu tinggi, Rp 7.000 per hari.Itupun jika musim penghujan datang seperti sekarang. Jika tidak, aku dan Ibu mencari pekerjaan apapun, yang penting halal dan bisa menghilangkan rasa lapar yang melilit perut.
Lintasan cerita tentang kehidupanku bersama Ibu, seketika buyar saat mendengar panggilannya. Aku bergegas dengan tubuh yang basah kuyup hingga tiba di hadapannya.
“Ada hal penting yang ingin Ibu beritahukan kepadamu. Lekaslah bebersih.”
Setelah itu, di bibir Ibu tersungging senyum tipis, yang manis. Aku tahu persis arti senyuman itu. Senyum yang teramat manis itu tak bisa kuungkapkan dengan sekadar kata-kata biasa.Bagiku, Ibu adalah pahlawan dalam kesepian.
Lambat laun aku semakin mengerti akan semua yang Ibu kerjakan selama ini.
Usai bebersih,aku segera menghambur ke kamar Ibu untuk menanyakan hal yang semula ia ingin sampaikan padaku tadi pagi.
Sembari memegang pundakku Ibu berkata lirih.
“Ibu ingin sekali anak-anak didesa ini berkenalan dengan kecanggihan teknologi komunikasi yang tak pernah terjamah selama ini. Janganlah terus-menerus terpuruk. Kamu mau kan membantu Ibu untuk mewujudkannya?”
“Bagaimana caranya, Bu?
Ibu pun mulai memberikan penjelasan tentang seberapa penting teknologi dan media massa untuk masyarakat umum. Hingga aku semakin paham dan mulai mempelajarinya dengan bantuan buku-buku yang Ibu bawa dari sekolah.
***
Setelah seminggu musim penghujan menyambang, masalah baru pun muncul. Kami tak pernah memakai sandal atau sepatu ketika hendak bepergian. Karena hal itu sama saja mempersulit gerak. Belum lagi dengan lumpur yang menempel di telapak sepatu atau sandal—yang talinya bisa seketika putus jika kaki kami amblas di lumpur,  atau struktur jalan berlapis tanah merah yang menjadi semakin licin.Rasanya seperti musibah bila harus membeli sandal atau sepatu baru yang harganya menurut kami teramat mahal. Lebih baik uangnya untuk membeli beras di warung Mbah Surujan, di desa Sabrang Lor.
Apa daya. Masalah itu memang harus terjadi dan dihadapi. Karena minggu ini aku dan Ibu harus pergi menuju kecamatan untuk menemui salah satu temannya yang berada disana.
Desaku memang terbelakang untuk urusan ini. Karena terpelosok, jauh dari kota, dan jika memang ingin pergi ke kota, harus dengan mengendarai motor dan bisa menghabiskan waktu sekitar enam jam. Bayangkan jika untuk menempuhnya kami harus berjalan kaki?
Dikota, semua memang terasa mudah. Meski hanya orang berduitlah yang bisa merasakannya. Di kecamatan, lain ceritanya. Sekalipun ada kantor kecamatan dekat desa,tak ada fasilitas yang mendukung. Hanya ada satu komputer saja yang memang terhubung dengan jaringan internet. Aku diberi tahu Ibu soal internet ini,karena kemarin aku diajak beliau untuk bertemu temannya dikecamatan,untuk memberikan pelajaran singkat bagaimana mengoperasikan komputer dan menggunakan internet. Alat yang asing untuk hidupku,walaupun sebelumnya sudah kupelajari dari lembaran buku pemberian Ibu.
Dari internet itulah kemudian kutahu seberapa penting media sosial untuk kehidupan kita. Semua jadi lebih cepat,dekat,dan lekat.  Untuk bisa mewujudkan semua hasil pengetahuan yang kudapat dari buku pemberian Ibu,aku harus berjalan berpuluh-puluh kilometer yang menguras keringatku dan sesekali tergelincir di jalanan yang licin menuju kecamatan, untuk menerima pelajaran cuma-cuma dari salah satu teman Ibuku, Pak Iman.
Rasanya memang ada perbedaan ketika aku melihat dan mempelajari media sosial seperti sekarang. Meski tetap saja terasa masih kurang. Keadaan yang tak mendukung dan alam tempat kami yang terpelosok dari kota,sangat menghambat kamiuntuk menjelajah melalui jejaring sosial. Itu adalah sebagian kecil hambatan yang ada didesa kami. Tapi tak apalah.Itu hanya selintas pembelajaran dihidup kamiyang serba kekurangan tapi tetap menjunjung tinggi rasa keimanan kepada Sang Khaliq. Akutetap bersyukur, Ibu apalagi. Semua penduduk di desaku pun begitu. Semua menerima dengan lapang dada.Seperti senyum manis tipis Ibuku itu.
***
Tak terasa sudah satu bulan musim penghujan datang menyambangi kami. Setelah terus mempelajari dunia jejaring sosial, aku pun semakin yakin bahwa hidup kami bisa diubah. Aku ingin mengubah keadaan desaku dari keterpurukan ketidaktahuan akan dunia lain yang berada jauh dari desaku ini,agar semua penduduk desaku tahu banyak tentang kota-kota diluar sana yang dihiasi keindahan lain yang tak ada di desa kami.
“Kring... kring... kring...” seketika terdengar bunyi klakson sepeda tua yang di kayuh oleh lelaki separuh baya dari kejauhan sana,tergesa-gesa, samar dan semakin dekat menuju tempatku duduk diatas baledidepan gubuk reot kami. Akhirnya lambat laun terlihatlah siapa lelaki itu. Ia adalah salah satu teman Ibu dari kecamatan, Pak Kumis.
Ia mendekatiku. Lalu menyapa dengan lembut dan memberikan padaku sepucuk surat yang baunya harum. Aku pun membuka surat itu dengan menyobek bagian kiri atasnya. Setelah itu kuhampiri Ibu yang sedang menyapu halaman depan gubuk kami. Ibu pun mulai membacaikata demi kata sedari awal kalimat hingga akhir. Aku dan Ibu sekilas saling bersitatap, dan dimatanya kulihat binaran cahaya yang begitu indah.
Surat itu berisi undangan dari bapak camat Desa untukku dan Ibu,untuk menghadiri sebuah acara di kantornya.Ternyata semuapenduduk desa juga mendapatkan undangan  yang sama. Tujuannya belum pasti.Tapi pesan yang tertera didalam surat adalah, untuk meningkatkan kemajuan desa kami dan desa yang ada di Seberang Lor.
***
Hari itu pun tiba.Sedari pagi buta aku dan Ibu sudah berbenah rumah demi menghadiri undangan pak camat dikantornya. Meski gerimis tak jua reda, akhirnya kami kami tetap menuju ke lokasi acara. Sialnya, di tengah perjalanan aku tergelincir dan jatuh di kubangan lumpur yang tak bisa kulewati.Alhasil seluruh pakaianku terbalut lumpur. Padahal aku tak membawa lagi pakaian ganti. Sementara itu, baju Ibu pun kecipratan lumpur yang sekarang menempel di tubuhku.Tapi Ibu bersikeras untuk tetap menuju kantor camat. Hampir empat jam lebih waktu yang kami tempuh dalam kondisi seperti anak kucing yang baru saja naik dari comberan.
Kami sampai di lokasidengan pakaian seadanya. Didepan pintu masuk sudah ada dua lelaki paruh baya yang memang bertugas menunggu para tamu di acara itu. Kami mendekat ke arah mereka dan segera menunjukkan kartu undangan. Kedua lelaki itu lantasmempersilahkankami masuk ke ruangan acara untuk mendengarkan pidato dari Pak Camat, yang berdasar cerita dari penduduk desa,ia adalah sosok lelaki yang memiliki senyuman menawan dan kepribadian berwibawa. Tapi sayangnya,kami hanya bisa mendengar pembicaraan dari luar ruangan yang disatukan dengan para undangan yang sama seperti kami: tidak berpakain rapih. Rasanya pedih memang. Didiskriminasikan diantara yang lainnya.
Hari itu pun seketika senyap. Seperti hari tanpa hari. Kami pulang dengan harapan hampa tanpa dapat melihat kedatangan Pak Camat, pun kepergiannya. Kami hanya mendengar samar-samar suaranya lewat pengeras suara yang menyerukan untuk pembangunan khususnya internet di desa kami. Pesan itulah yang melipur hatiku dan Ibu untuk segera sampai di rumah dan mengabarkannya kepada Inam.
***
Pagi ini beging. Indah. Aku sedang asyik melamun di atas bale ketika lelaki pembawa undangan tempo hari itu datang lagi hari ini.Ia memberiku sebuah bingkisan nan sederhana. Benar-benar sederhana. Tapi menjadi tidak sederhana lagi setelah kutahu yang mengirimkannya adalah Pak Camat sendiri. Khusus untuk para undangan yang kemarin lusa tak sempat bertemu dengan beliau. Usai bertemu denganku, lelaki paruh baya itu pun hilang di kejauhan.
Aku pun segera menghampiri Ibu dan membuka bingkisan itu. Ternyata di dalam bingkisan itu ada sebuah undangan untuk kursus komputer, lengkap dengan fasilitas internetnya. Aku seperti bermimpi di siang bolong. Masih di dalam undangan itu.Ada sebaris kalimat yang ditulis langsung olehPak Camat, yang berbunyi:
“Tetaplah semangat, Randa. Belajarlah terus untuk masa depanmu yang lebih cerah. Joko Aminoto.” []kameliaindriyanie@gmail.com